3 Polemik TikTok di Amerika Serikat

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika rajazeus Serikat sudah meloloskan konsep undang-undang (RUU) bipartisan yang sanggup melarang TikTok. RUU selanjutnya disahkan melalui pemungutan nada bersama dengan hasil 352 berbanding 65. Dokumen itu di dukung 197 bagian Partai Republik dan 155 bagian Partai Demokrat, dikutip Antara.

Senat Amerika Serikat pada Selasa, 23 April 2024 mengesahkan konsep undang-undang yang dapat melarang pemanfaatan TikTok sekiranya pemilik sarana sosial tersebut, ByteDance, tidak menjajakan sebagian sahamnya (divestasi) ke pihak di luar Cina selama 9-12 bulan sejak undang-undang itu berlaku.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden diberi tanda tangan pengesahan dokumen selanjutnya menjadi undang-undang pada Rabu, 24 April 2024, seiring bersama dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken ke Cina pada 24-26 April 2024.

TikTok di Amerika Serikat

“Saya sendiri dan juru berbicara Kementerian Perdagangan pada mulanya sudah memperjelas posisi Cina didalam pengesahan UU TikTok oleh parlemen Amerika Serikat. Anda sanggup merujuk pengakuan tersebut,” kata Menteri Luar Negeri Cina, Wang Wenbin kepada wartawan selagi menyampaikan info kepada sarana di Beijing, Rabu, 24 April 2024.

1. ByteDance Memilih Tutup

ByteDance selaku perusahaan pemilik TikTok pilih untuk menutup aplikasinya yang merugi. Itu daripada menjualnya jikalau perusahaan Cina ini gagal bersama dengan semua opsi hukum untuk melawan undang-undang yang melarang platform selanjutnya dari toko aplikasi di Amerika Serikat, menurut sumber Reuters, Jumat, 26 April 2024.

TikTok berbagi algoritma inti yang mirip bersama dengan aplikasi domestik ByteDance seperti platform video pendek Douyin, kata tiga sumber. Algoritmanya dianggap lebih baik dibandingkan rival ByteDance seperti Tencent dan Xiaohongshu, kata tidak benar satu dari mereka.

Tak barangkali untuk mendivestasi TikTok bersama dengan algoritmanya sebab lisensi kekayaan intelektual mereka terdaftar di bawah ByteDance di Cina. Itu sulit untuk dipisahkan dari perusahaan induknya.

Memisahkan algoritma dari aset TikTok di Amerika dapat menjadi prosedur yang sangat rumit dan ByteDance barangkali besar tidak dapat memperhitungkan opsi tersebut. ByteDance terhitung tak dapat setuju untuk menjajakan tidak benar satu asetnya yang paling miliki nilai kepada pesaingnya.

2. Berharap Menang Gugatan

CEO TikTok Shou Zi Chew menyebutkan pada Rabu, 24 April 2024, perusahaan sarana sosial itu berharap untuk memenangkan gugatan hukum untuk memblokir undang-undang yang ditandatangani oleh Joe Biden yang menurutnya dapat melarang aplikasi video pendek populernya yang digunakan oleh 170 juta orang Amerika itu.

RUU tersebut, yang disahkan secara mayoritas oleh Senat Amerika pada hari Selasa, 23 April 2024 didorong oleh kegelisahan yang meluas di kalangan bagian parlemen AS bahwa Cina sanggup membuka knowledge warga Amerika atau menggunakan aplikasi selanjutnya untuk pengawasan.

3. Khawatir Kebocoran Data di TikTok

Pada Kamis 23 Maret 2024, DPR Amerika Serikat melaksanakan rapat dengar pendapat yang mengundang CEO TikTok Shou Zi Chew. Selama lima jam Shou Zi Chew menghadapi pertanyaan dari bagian Komisi DPR Amerika perihal keamanan nasional dan kegelisahan lain atas aplikasi yang digunakan nyaris 150 juta warga Amerika.

Ketua DPR Amerika Serikat Kevin McCarthy pada Jumat, 22 Maret 2024 selagi setempat sangat percaya anggota-anggota DPR dapat meloloskan undang-undang yang menangani kegelisahan atas keamanan nasional perihal aplikasi video pendek punya Cina, TikTok.

McCarthy membuktikan pengakuan yang disampaikan Chew didalam dengar pendapat itu sangat mengkhawatirkan. “CEO ini tidak sanggup menegaskan bahwa Cina tidak memata-matai knowledge (TikTok),” kata McCarthy, dikutip dari Antara.